Istilah perempuan mandiri sedang naik-daun akhir-akhir ini. Faktanya, kini memang banyak perempuan Indonesia yang mulai menunjukkan peran aktif mereka dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam hal keuangan. Di tengah kemajuan teknologi, banyak peluang terbuka lebar bagi perempuan untuk mengatur hidup mereka sendiri, termasuk dalam hal finansial.
Namun, tak dimungkiri bahwa masih banyak anggapan terkait perempuan, khususnya yang sudah menikah, seharusnya bergantung secara finansial kepada pasangan. Sebenarnya tidak ada yang salah, tetapi jika terlalu bergantung, justru hanya akan merugikan perempuan sendiri di kemudian hari. Padahal, kemandirian finansial bukan berarti ingin menyaingi pasangan atau menolak peran pasangan, melainkan menciptakan rasa aman dan keseimbangan dalam hidupmu sendiri.
Data terbaru bahkan menunjukkan makin banyak perempuan di Indonesia yang telah dan sedang dalam proses menuju kemandirian finansial. Hal ini menunjukkan adanya perubahan pola pikir dan kebiasaan pengelolaan keuangan di kalangan perempuan Indonesia.
Sebuah survei Sun Life Asia 2025 bertajuk “Women’s Wealth in Focus: Building Confidence and Security” yang dikutip oleh Merdeka.com mengungkapkan bahwa mayoritas perempuan Indonesia saat ini merasa lebih aman secara finansial dibandingkan perempuan pada generasi sebelumnya. Survei ini melibatkan sejumlah perempuan Indonesia dari berbagai latar belakang usia, pekerjaan, dan status sosial.
Dalam survei tersebut, sebanyak 78% responden menyatakan bahwa kondisi keuangan mereka saat ini jauh lebih baik daripada ibu mereka dulu di usia yang sama. Dengan kata lain, ada perubahan besar dalam kesadaran finansial yang terjadi antar generasi. Mungkin kamu juga merasakannya, terlebih kalau sekarang kamu sudah bisa mengatur keuangan sendiri, memiliki dana darurat, atau mungkin mulai investasi.
Akan tetapi, meski data tersebut menunjukkan kesan yang positif, ternyata masih ada tantangan besar di baliknya. Sekitar 32% responden mengaku merasa tertekan karena harus menanggung kebutuhan finansial untuk anak dan orang tua sekaligus. Fenomena ini biasa disebut sebagai generasi sandwich. Ini artinya, meski perempuan Indonesia makin mandiri, beban yang harus mereka tanggung justru ikut bertambah.
Di samping itu, sebanyak 59% responden menyebutkan bahwa kondisi kesehatan juga menjadi faktor utama dalam proses pengambilan keputusan keuangan mereka. Kemudian, faktor lain seperti perubahan pendapatan (38%) dan pembelian rumah (46%) juga menjadi pertimbangan penting.
Kemandirian finansial bagi perempuan tak hanya memberikan manfaat bagi perempuan itu sendiri, tetapi juga keluarga, lingkungan sekitar, dan bahkan negara. Pasalnya, saat perempuan memiliki penghasilan dan mampu mengelola keuangan dengan bijak, otomatis mereka memiliki kebebasan untuk mengambil keputusan penting dalam hidup mereka sendiri, mulai dari pendidikan, karier, hingga urusan rumah tangga.
Bukan hanya itu, perempuan mandiri secara finansial umumnya lebih tahan banting dan tahan terhadap kondisi sulit. Kamu tidak akan mudah terguncang jika mengalami masalah, seperti kehilangan pekerjaan atau mungkin menghadapi relasi yang tidak sehat. Hal ini karena kamu tahu bahwa kamu memiliki kontrol penuh atas sumber daya keuanganmu sendiri.
Menariknya lagi, kondisi ini juga berpengaruh terhadap perempuan yang sudah berkeluarga. Ketika kamu dan pasangan sama-sama memiliki penghasilan, otomatis kamu bisa menciptakan hubungan yang lebih seimbang. Kamu tidak lagi merasa terlalu bergantung dan bisa lebih percaya diri dalam menyampaikan pendapat atau mengambil keputusan bersama.
Seperti yang disinggung sebelumnya, kemandirian finansial perempuan tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri. Kemandirian mereka juga berpengaruh terhadap keberlanjutan industri, khususnya dalam dunia kerja dan bisnis. Pasalnya, perempuan yang mandiri secara ekonomi cenderung lebih produktif, lebih fokus, dan memiliki loyalitas tinggi terhadap perusahaan.
Bahkan, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) 2021 yang dikutip oleh Katadata, sebanyak 39,52% penduduk usia kerja di Indonesia yang bekerja adalah perempuan. Angka ini terus melonjak, terutama karena adanya peluang kerja yang makin luas, fleksibilitas kerja, dan kemajuan teknologi yang memungkinkan perempuan bekerja dari rumah atau menjalankan usaha secara online.
Hal ini tentunya menjadi peluang besar bagi para pelaku industri dan pengusaha karena berpeluang mendapatkan SDM yang lebih berkualitas. Pemberian akses kerja kepada perempuan dan kontrol atas pendapatan mereka, seperti asuransi atau investasi juga dapat membantu meningkatkan kesejahteraan mereka dan bahkan mendongkrak produktivitas perusahaan.
Walaupun tren perempuan mandiri secara finansial menunjukkan adanya perubahan yang positif, tetap ada beberapa tantangan di balik itu semua seperti yang disampaikan di ata.
Pertama, masih banyak perempuan yang tingkat literasi keuangannya rendah. Survei dari Sun Life menunjukkan bahwa 44% perempuan mengaku hanya memahami produk keuangan tingkat dasar. Hal ini otomatis membuat perempuan lebih rentan dalam pengambilan keputusan yang kurang bijak, khususnya untuk jangka panjang.
Kedua, kesenjangan pendapatan antara laki-laki dan perempuan masih menjadi problematika yang belum tuntas hingga sekarang. Sebanyak 45% responden mengaku mereka dibayar lebih rendah dibanding pekerja laki-laki meskipun memiliki kemampuan dan tanggung jawab kerja yang sama. Hal inilah yang membuat mereka harus bekerja lebih ekstra untuk mewujudkan tingkat keamanan finansial yang sama dengan laki-laki.
Ketiga, tekanan sosial dan budaya juga turut berpengaruh. Masih ada pandangan konservatif yang menganggap bahwa perempuan seharusnya fokus pada urusan domestik saja. Padahal, menjadi perempuan mandiri bukan berarti meninggalkan tanggung jawab keluarga. Justru dengan menjadi mandiri, kamu bisa turut berkontribusi dari berbagai sisi kehidupan.
Keempat, kurangnya produk keuangan yang sesuai dengan kebutuhan perempuan juga menjadi hambatan tersendiri. Lebih dari 54% perempuan bahkan mengaku kesulitan menemukan layanan keuangan yang dapat mengakomodasi kebutuhan mereka. Hal ini menunjukkan bahwa inklusi keuangan belum banyak berpihak pada perempuan.
Bagi perempuan, mewujudkan kemandirian finansial memang bukan perkara mudah. Namun, dengan kemauan besar untuk senantiasa mau belajar, mandiri secara finansial pasti bisa diwujudkan.
Ingatlah, menjadi perempuan mandiri bukan berarti kamu harus menanggung segalanya sendiri. Justru, kemandirian bisa membuat kamu lebih bertanggung jawab atas hidupmu sendiri agar kamu bisa menjalani kehidupan sehari-hari dengan penuh rasa percaya diri, kebebasan, dan rasa aman.