Crowdfunding: Solusi Terjangkau untuk Mendapatkan Pembiayaan Properti

Crowdfunding: Solusi Terjangkau untuk Mendapatkan Pembiayaan Properti

Mencari pembiayaan properti yang sesuai dengan kemampuan finansial pribadi kerap menjadi tantangan bagi banyak orang. Namun, ada banyak solusi inovatif yang bisa Anda gunakan untuk mewujudkan properti impian. Salah satunya adalah mengajukan pembiayaan lewat lembaga crowdfunding properti.

Sederhananya, crowdfunding merupakan metode pembiayaan atau permodalan yang melibatkan banyak pihak untuk mendukung suatu usaha. Untuk lebih jelasnya, simak terus ulasan berikut ini.

Apa Itu Crowdfunding Properti?

Crowdfunding Properti

Melansir laman DJKN Kemenkeu, crowdfunding adalah sistem pendanaan usaha atau proyek yang melibatkan masyarakat luas. Dengan kata lain, crowdfunding properti adalah pengumpulan dana untuk membiayai suatu proyek properti di mana dana berasal dari banyak orang. Dalam hal ini, pihak yang mendanai proyek disebut sebagai investor atau pemodal.

Proyek properti yang mendapatkan pembiayaan melalui crowdfunding cukup beragam. Di antaranya pembelian properti, renovasi, pengembangan properti, dan proyek-proyek konstruksi lainnya. Pemilik proyek umumnya bekerja sama dengan lembaga penyedia crowdfunding untuk mempublikasikan rencana proyek mereka secara daring.

Semua pihak yang berencana menjadi pemodal bisa mengakses informasi mengenai proyek-proyek properti yang ada. Informasi tersebut mencakup rencana proyek, risiko, dan prospek keuntungan yang bisa didapatkan oleh pemodal.

Dalam beberapa kasus, lembaga crowdfunding memberi peluang para pemodal untuk menjadi pemilik dari separuh nilai aset properti yang mereka danai. Bagi individu dengan dana terbatas, mereka bisa mendapatkan properti impian lewat platform crowdfunding. Pun begitu dengan pengembang properti, mereka bisa mengajukan pembiayaan proyek lewat crowdfunding.

Melansir dari berbagai sumber, crowdfunding properti dibagi menjadi beberapa jenis, di antaranya: 

  • Crowdfunding pembelian properti: Sesuai namanya, crowdfunding jenis ini digunakan untuk membeli suatu produk properti. Para pendana memberikan modal dalam jumlah tertentu dan akan mendapatkan keuntungan dari pembagian laba atau pengembalian modal.
  • Crowdfunding pengembangan properti: Jenis crowdfunding ini ditujukan untuk membiayai pengembangan properti, seperti renovasi dan konstruksi. Pemodal yang berpartisipasi akan mendapatkan keuntungan dari peningkatan nilai properti terkait.
  • Crowdfunding sewa properti: Sesuai namanya, crowdfunding yang berikut ini ditujukan untuk membeli properti sewa, seperti rumah tapak atau apartemen. Tujuannya adalah untuk menghasilkan pendapatan dari kegiatan sewa menyewa yang kemudian dibagi dengan pemberi modal.
  • Crowdfunding tanah: Merupakan crowdfunding yang digunakan untuk membeli atau mengembangkan lahan. Keuntungan yang didapat pemodal berasal dari peningkatan nilai jual tanah atau properti yang dibangun di atasnya.
  • Crowdfunding Real Estate Investment Trusts (REITs): Melansir Investopedia, jenis crowdfunding yang satu ini melibatkan investasi properti dalam bentuk REITs. Sederhananya, REITs adalah lembaga pengelola portofolio properti komersial. Mereka menawarkan saham ke para investor dan investor akan mendapatkan profit berupa dividen.

Cara Kerja Crowdfunding Properti

Crowdfunding Properti

Lantas, bagaimana cara kerja crowdfunding properti? Melansir dari laman Forbes dan Crowdfunding.com, berikut cara kerja crowdfunding dalam pembiayaan properti:

1. Perencanaan proyek

Individu, pengembang atau pemilik proyek properti terlebih dahulu merencanakan proyek yang membutuhkan pembiayaan. Bisa berupa pembelian, renovasi, pengembang maupun proyek pembangunan lainnya.

2. Pendaftaran proyek ke platform crowdfunding

Selanjutnya, pemilik proyek mendaftarkan proyeknya ke penyedia layanan crowdfunding properti tepercaya dan sudah mendapat lisensi. Pemilik wajib memberikan informasi rinci mengenai proyeknya. Di antaranya menyertakan deskripsi proyek, rencana keuangan, durasi proyek, dan potensi keuntungan.

3.  Calon pemodal mempelajari proyek terkait

Penyedia layanan crowdfunding akan mempublikasikan proposal pemilik proyek. Selanjutnya, para investor akan mempelajari proposal tersebut. Mereka bisa melihat apakah proyek yang dipelajari memiliki prospek yang bagus atau tidak.

4. Pemodal memberikan modal

Bila pemodal tertarik, mereka bisa melakukan pendaftaran ke platform crowdfunding dan menentukan berapa dana yang mau mereka sumbangkan. Umumnya, platform sudah menentukan minimal dana yang bisa disetorkan.

5. Dana dikumpulkan dan disalurkan

Setelah dana proyek mencapai target yang ditentukan, pihak penyedia layanan crowdfunding akan menyalurkan dana tersebut ke pemilik proyek. Dana yang diberikan harus digunakan untuk melaksanakan proyek sesuai dengan rencana.

6. Pemilik proyek wajib memberikan pembaruan

Selama proyek berlangsung, pemilik wajib menginformasikan setiap pembaruan yang ada pada pemberi modal. Contohnya informasi mengenai perkembangan proyek, pemanfaatan dana, dan laporan keuangan. Informasi ini umumnya disampaikan melalui pihak penyalur dana, dalam hal ini adalah platform crowdfunding.

7. Pembagian keuntungan

Ketika proyek sudah selesai, pihak pemberi modal berhak mendapatkan profit dari modal yang sudah mereka berikan. Profit bisa berupa pembagian laba sesuai dengan persentase investasi atau pengembalian modal.

Fungsi Crowdfunding dalam Pembiayaan Properti

Tak jauh berbeda dari skema pembiayaan properti lainnya, crowdfunding properti bertujuan untuk mempermudah akses masyarakat dalam mendapatkan properti. Selain itu, masih ada manfaat lainnya, di antaranya:

1. Mempermudah perolehan modal

Salah satu fungsi utama crowdfunding properti adalah untuk mempermudah masyarakat dalam mendapatkan dana untuk membiayai proyek properti mereka. Melalui pengumpulan dana dari banyak pihak, penerima pembiayaan dapat memulai, membeli atau melanjutkan konstruksi properti mereka.

2. Sebagai alternatif pembiayaan konvensional

Pembiayaan properti ditawarkan oleh banyak pihak, mulai dari lembaga perbankan hingga non-perbankan. Dengan adanya perusahaan-perusahaan penyedia layanan crowdfunding properti, masyarakat mendapatkan satu alternatif non-konvensional. Lewat crowdfunding, masyarakat bisa mengajukan pembiayaan secara lebih fleksibel dan juga menghindari persyaratan pengajuan yang umumnya sangat ketat.

3. Meningkatkan akses ke peluang dan koneksi

Melalui layanan crowdfunding properti, penerima pembiayaan bisa menjalin hubungan dengan para pemilik modal. Hal ini tentunya dapat membuka peluang untuk menjalin bisnis properti di masa mendatang.

4. Meningkatkan visibilitas produk properti

Bila penerima pembiayaan adalah pengembang properti, maka mereka dapat meningkatkan visibilitas produk properti mereka. Pasalnya, mereka wajib mencantumkan informasi sejelas mungkin mengenai proyek yang akan dilangsungkan. Dengan begitu, mereka bisa meningkatkan jangkauan pemasaran dan menarik lebih banyak calon konsumen bahkan sebelum proyek selesai.

5. Meningkatkan partisipasi para pemodal

Pemodal memegang peran krusial dalam suatu crowdfunding properti. Penerima pembiayaan bisa menjalin hubungan dengan mereka untuk mendapatkan pengetahuan, memperluas koneksi, maupun mendapatkan saran guna meningkatkan pengerjaan dan kesuksesan proyek properti.

Risiko Crowdfunding Properti

Melihat penjelasan di atas, crowdfunding jelas dapat menjadi alternatif yang solutif untuk mendapatkan pembiayaan. Seperti skema pembiayaan lainnya, crowdfunding juga memiliki risiko tersendiri, di antaranya:

  • Pihak yang mengajukan pembiayaan gagal mencapai target pembiayaan. Akibatnya, proyek properti terpaksa harus dibatalkan atau tidak bisa dilanjutkan.
  • Pihak penerima pembiayaan bisa saja mengalami ketidakpastian terkait proses konstruksi. Contohnya keterlambatan pembangunan, perizinan rumit, perubahan regulasi, dan masalah lainnya yang bisa mengganggu kelancaran proyek.
  • Penerima pembiayaan juga bisa menghadapi masalah yang berhubungan dengan nilai pasar properti. Contohnya nilai pasar yang fluktuatif, kondisi pasar tidak memberikan banyak profit, dan risiko kegagalan konstruksi properti.
  • Risiko lainnya berhubungan dengan platform crowdfunding itu sendiri. Risiko yang dimaksud antara lain kerentanan keamanan data dan pihak ketiga tidak mampu memenuhi kewajiban.

Di Indonesia, crowdfunding properti sudah mulai diminati sejumlah masyarakat, khususnya pelaku bisnis properti. Sebab, skema pembiayaan ini cukup solutif bagi orang-orang yang tidak memiliki akses untuk mendapatkan pembiayaan konvensional, seperti lewat bank.

Leave a Reply