Terbaru dalam AI: Dampak di Berbagai Sektor

Terbaru dalam AI: Dampak di Berbagai Sektor

AI (artificial intelligence) atau kecerdasan buatan merupakan salah satu inovasi teknologi mutakhir abad ini. Secara umum, AI mengotomatisasi aktivitas manual agar menjadi lebih praktis dan efisien dalam berbagai sektor industri. Seiring dengan berkembangnya teknologi, tentunya fungsi AI lebih dari sekadar mengotomatisasi aktivitas manual.

Perkembangan AI Saat Ini

AI

Konsep dari AI sendiri sudah ada sejak tahun 1950-an dan pertama kali dicetuskan oleh Marvin Minsky, John McCarthu, dan ilmuwan lainnya di Massacussets Institute of Technology. Sejak saat itu, AI terus mengalami perkembangan dan baru beberapa tahun terakhir, teknologi tersebut masif digunakan oleh masyarakat dunia. 

Hal tersebut ditandai dengan munculnya platform ChatGPT yang berhasil mendapatkan 1 juta pengguna hanya dalam waktu 5 hari sejak peluncurannya pada November 2022. Pada awal 2023, ChatGPT mendapatkan 100 juta pengguna aktif. Pertumbuhannya merupakan yang paling cepat dari semua platform media sosial sebelum akhirnya disusul oleh Threads pada Juli 2023.

Dalam perkembangannya, AI tak bisa lepas dari computing power dan big data. Secara umum, developer harus mendapatkan data dalam jumlah yang tak bisa dibilang sedikit untuk membuat suatu platform atau perangkat yang bisa berpikir dan bertindak layaknya manusia.

Secara umum, data yang digunakan dalam AI dikategorikan menjadi tiga jenis, yakni visual data, textual data, dan numerical data. Data-data tersebut kemudian dipelajari oleh AI untuk menghasilkan output sesuai dengan permintaan pengguna berdasarkan input yang dipelajari dari data-data tadi.

Perkembangan AI di Indonesia

AI

Perkembangan AI makin masif seiring dengan melesatnya pengguna internet di dunia saat ini. Sebagai negara dengan penduduk terbesar ke-4 di dunia, sangat masuk akal bila Indonesia masuk ke dalam jajaran negara dengan pengguna internet terbanyak.

Data terbaru menunjukkan bahwa pengguna internet di Tanah Air mencapai 221,5 juta pengguna dari total populasi 278,6 juta penduduk. Itu artinya lebih dari 75% penduduk Indonesia merupakan pengguna internet. 

Menurut survei pada pertengahan 2023, ada 75% dari 22.816 responden yang bersemangat untuk menyambut produk dan layanan berbasis AI. Sementara itu, 78% responden meyakini bahwa layanan dan produk AI memiliki keunggulan yang lebih banyak dibanding kekurangannya. Mereka meyakini bahwa pemanfaatan teknologi AI dapat meningkatkan produktivitas kerja, efisiensi, serta mendorong lahirnya inovasi-inovasi baru.

Meskipun cukup banyak masyarakat Indonesia yang terbuka dengan penggunaan AI, justru kapasitas sumber daya manusia di Tanah Air untuk menggunakan dan mengembangkan AI masih rendah. Data pada 2023 menunjukkan Indonesia berada di peringkat ke-46 dari total 62 negara.

Angka tersebut diambil berdasarkan kapasitas AI setiap negara berdasarkan jumlah populasi dan perekonomian serta terhadap komparasi dengan negara lainnya. Meskipun masyarakat antusias dengan pemanfaatan AI di berbagai sektor industri, faktanya sumber daya manusia yang terampil dan semi-terampil terkait pengembangan AI masih terbatas.

Hal tersebut tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia dalam proses pengembangan dan pengintegrasian AI di berbagai sektor industri. Meskipun demikian, banyak perusahaan swasta di Indonesia yang perlahan-lahan telah mengintegrasikan AI ke dalam sistem operasional mereka.

Dampak Perkembangan AI di Berbagai Sektor

AI

Perlu dipahami bahwa berkembangnya AI ibarat pedang bermata dua. Di ujung yang satu, inovasi teknologi ini menawarkan efisiensi kerja, khususnya dalam hal peningkatan pelayanan konsumen. Hal ini tentunya dapat mengurangi biaya operasional dan bahkan pengurangan sumber daya manusia.

Namun di sisi lain, AI bisa menjadi bumerang bagi perusahaan. Pasalnya, bila semua aktivitas bisnis dilakukan secara digital oleh mesin berbasis AI, maka banyak pekerjaan yang perlahan-lahan akan punah.

Kendati demikian, perusahaan tetap harus menggunakan tenaga manusia atas nama etika dan moral dalam pemanfaatan teknologi. Hanya saja perbedaannya terletak pada spesifik pekerja yang dibutuhkan, misalnya perusahaan akan lebih membutuhkan pekerja yang paham tentang AI.

Selain itu, butuh biaya dan modal yang fantastis untuk menerapkan AI di berbagai sektor industri. Sebelum AI benar-benar bisa diaplikasikan, butuh riset dan proses pengembangan yang kompleks. 

Lebih lanjut, AI perlahan-lahan akan mengubah sistem ketenagakerjaan dan bahkan ekonomi negara. Bila penerapan AI tidak dilakukan dengan bijak dan mempertimbangkan faktor-faktor etika serta moral, maka teknologi tersebut berpotensi memperparah kesenjangan. Hal ini termasuk kesenjangan ekonomi, antargender, dan bahkan antarwilayah.

Sementara itu, di sisi positifnya, AI jelas dapat membuat operasional bisnis menjadi lebih efisien. Misalnya saja dalam bidang pelayanan konsumen, penggunaan AI dalam bentuk chatbot dapat mempermudah perusahaan untuk memberikan pelayanan terhadap konsumen. Lebih lanjut, produk AI bisa membantu mengurangi beban kerja customer service.

Tak hanya itu saja, AI yang diterapkan dengan mengindahkan regulasi yang berlaku dapat digunakan untuk meningkatkan produksi serta pelayanan bisnis. Dengan adanya perangkat produksi berbasis AI, maka proses produksi menjadi lebih efisien dan minim human error

Cepatnya proses produksi tentu akan memengaruhi proses pelayanan bisnis kepada konsumen. Makin cepat suatu produk diproduksi, makin besar pula peluang perusahaan untuk mendapatkan profit yang lebih tinggi.

Penerapan AI juga tak hanya bisa dilakukan pada satu jenis bidang industri saja. Mulai dari industri manufaktur hingga kesehatan, hampir semua bisa memanfaatkan peran AI. Namun penggunaan AI di Indonesia masih kurang masif bila dibandingkan dengan negara lain.

Keterbatasan sumber daya manusia menjadi tantangan yang paling berat yang dapat menghambat pemanfaatan AI. Dalam hal ini, pemerintah dan sektor swasta tentunya harus ikut turun tangan untuk memberikan edukasi dan pelatihan yang mendalam terkait AI dan pengembangannya. Pembuatan regulasi untuk mengatur penggunaan dan pengembangan AI juga diperlukan agar teknologi tersebut tidak disalahgunakan.

Leave a Reply